Category: Corona


Mengungkap Bukti Baru : COVID-19 Bukan Rekayasa Laboratorium

Banyak diantara kalian yang bermain praduga mengenai Corona atau COVID-19 ini yang dimana teorinya menyatakan kalau Virus Corona ini menjadi salah satu senjata biologi ciptaan yang bocor, dan dari sini para peneliti berani untuk bantah klaim tersebut.

Kabar ini pun cepat beredar bahkan tidak hanya dari media tetapi dari mulut ke mulut. Dimana, klaim ini menjadi salah satu penyebab COVID-19 menjadi salah satu hasil dari rekayasa Laboratorium dari para peneliti ini.

Nah, salah satu yang cukup fenomenal itu adalah senjata bilogi yang bocor ini. yang dimana itu Hoax dan tidak benar sama sekali. Dan sepertinya semua itu di bungkam dari adanya penelitian baru yang berhasil untuk bisa mengungkapkan bahwasannya Virus Corona ini adalah jenis baru yang dinamakan SARS-CoV-2 yang murni hasil dari evolusi alami. Lalu, COVID 19 ?…

Hasil inilah yang membantah semua teori tersebut yang dimana, Virus ini hadir tidak ada campur tangan manusia bahkan rekayasa sekalipun dari laboratorium. Dan kabar berita yang menjadi bukti ini setidaknya kita rangkum pada artikel yang satu ini. dimana semuanya masih hangat dalam berbagai perbincangan yang ada.

Bukti Bukan Rekayasa Lab Dan Corona Murni Evolusi Alam

Bagi kalian yang sebelumnya terlanjur percaya akan berita-berita hoax ini, maka kalian harus bisa merubah pola kepercayaan kalian saat ini juga. Hal ini dikarenakan adanya sebuah penemuan yang baru ini di publikasikan oleh Agen Sbobet Jurnal Nature Medicine yang disebutkan bahwasannya SARS-CoV-2 yang menyebabkan ini menjadi evolusi alami. Dari sebuah analisis data sekuens genom public ini tidak adanya menemukan bukti keterkaitan Virus ini di buat di laboratorium atau hanya rekayasa belaka. Dan hal ini juga sudah dilansir dari seorang Professor Imunologi dan juga Mikrobiologi di Scripps Research. Kalau dari penelitian oleh Anderson dan kolaboratornya bisa menyimpulkan bahwa virus ini menjadi salah satu dari 2 skenario yang terdiri dari :

–      Skenario 1 : virus mengalami evolusi pada keadaan Patogen melalui sebuah seleksi alam dari adanya inang non manusia yang selanjutnya melompat ke manusia. Ini terjadi pada manusia yang tertular virus setelah langsung terpaparkan langsung ke Musang yakni SARS dan Unta MERS. Sedangkan untuk Covid-19 ini sendiri adanya keterlibatan kelelawar.

–      Skenario 2 : ini menjadi virus yang non patogenik. Dimana melompat dari inang hewan lalu ke manusia dan evolusi menjadi kondisi pathogen dalam populasi manusia. Beberapa contoh ialah : Pangolin, mamalia yang mirip dengan Armadillo di Asia dengan Afrika yang memiliki struktur RBD mirip dengan COVID-19 ini. virus ini juga bisa berasal dari Trenggiling yang di tularkan ke manusia , baik itu langsung maupun melalui sebuah Inang seperti kasus pada Musang.

Dari sini, para peneliti menmukan adanya situs pembelahan pada SARS-CoV-2 mirip dengan situs pembelahan dari Strain Flu Burung yang nyatanya sangat mudah untuk menularkan dari orang 1 ke orang lainnya lagi.

Ilmuan Unair Memberikan Klaim Atas Penemuannya 5 Senyawa Obat Virus Corona

Unair atau Universitas Airlangga yang berada di Surabaya ini mengaku adanya penemuan senyawa untuk obat Virus Corona yang memang memiliki sebuah daya ikat lebih besar di bandingkan Avigan dan juga Chloroquine. Dimana, semua senyawa yang ada pada tahp ini menjadi sebuah percobaan untuk bisa menghasilkan obat yang terbaik. Ungkapan oleh ketua Tim Riset Civid-19 di Unair mengatakan 5 Senyawa ini sendiri memang memiliki kemiripan dengan Chloroquine yang memiliki sifat Antioksidan dan menjaga adanya membrane sel serta menjaga protein.

Untuk nantinya bisa ampuh, masih harus menjalani sebuah tes uji coba lagi yang dilakukan langsung oleh ITD Unair setelah adanya sebuah jurnal Ilmiah yang terbit lalu di respons oleh peneliti di dunia. Dan tak hanya itu saja, senyawa ini pun juga ingin dites langsung di episentrum virus pada Negara China serta Eropa. Dalam hal ini pun ITD akan melakukan kerjasam dengan Negara Jepang untuk bisa melakukan sebuah kultur pemetaan terhadapa COVID-19 dikarenakannya virus ini sendiri masih mewabah di Indonesia dan masih belum diketahui apakah penyebab virus ini masih sama dengan yang di Negara lainnya.

Disini pun diberikan adanya hasil pengujian yang dimana Avigan sendiri memiliki kekuatan -15,9 Kcal/mol dan untuk Chloroquine ini memiliki kekuatan -37,11 Kcal/mol.

Orang Tua Memang Beresiko Namun Tidak Berarti Anak Muda Kebal

WHO pernah mengatakan sebuah data menunjukkan bahwaasannya mereka yang memiliki usia diatas 60thn maka berada pada resiko tertinggi dan orang muda termausk anak-anak juga banyak yang meninggal dunia. Sejauh ini memang sudah ada salah satu kasus di Negara Inggris yakni kasus seorang remaja lelaki yang berusia 13 tahun ternyata positif COVID-19 dn dari sinilah timbul sebuah anistesis pada sebuah penelitian-penelitian sebelumnya.

Sejauh berita yang tersebar, adanya berbagai organisasi kesehatan yang menyatakan bahwasnnya semakin tua maka akan jauh semakin berisiko terkena virus ini. walau seperti itu WHO juga telah memberikan sebuah peringatan kepada kaum anak muda untuk tidaklah memandang diri terhadap imun yang dimiliki oleh anak muda tersebut. Dan jika kalian mengikuti salah satu berita yanag ada di situs online, maka disana melansir langsung keseluruhan dari orang tua memanglah beresiko lebih jauh tinggi daripada anak mudanya.

Akan tetapi terdapat sebuah data yang kemarin terdengar terhadap kematian dan juga penyakit yang memberikan adanya sebuah rata-rata sehingga, didalamnya sendiri aka nada orang yang memang lebih muda yang sayangnya menderita sebuah penyakit yang jauh lebih parah lagi. Dari beberapa kasus yang ada, memang orang-orang berusia muda ini mengalami Covid-19 yang bisa saja berakibat fatal nantinya.

Disini pun terdapat para peneliti yang dimana Imperal College London juga sudah menemukan hubungan yang memanglah jelas antara usia dengan kemungkinan yang di rawat di rumah sakit dengan banyaknya penyakit oleh Virus Corona ini.

Untuk penelitian ini menghasilkan sebuah presentase mendalam, yakni : kurang dari 5% orang yang emmiliki umur di bawah 50 tahun ini harus dirawat di dalam rumah sakit dikarenakan gejala yang memang parah. Lalu ada juga untuk 24% ini dikategorikan bagi orang yang berusia 70 sampai 79 tahun. Demikian dilanjutkannya lagi dari 5% dari orang yang di bawah umur 40 tahun harus berakhir di rumah sakit serta membutuhkan perawatan yang kritis, disbanding lagi dengan adanya 27% orang yang berusia 60 an dan 43% orang yang ada di usia 70an juga.

Bagi usia yang rata-rata di rawat ini juga mengalami perawatan Kritis di Negara Inggris, Wales serta Irlandia Utara yakni umur 63 tahun.

Nah, itu setidaknya barang bukti yang bisa membuka pikiran sebagian orang yang segitu percayanya dengan berita miring yang belum terbukti nyata sebelumnya.