Tag: Berita Hoax Menjadi Perang


HOAX Inilah yang Memicu Perang Besar dalam Sejarah

Kabar bohong atau sekarang ini lebih umum dikenal sebagai berita hoax, berita hoax ini nyatanya sangat beresiko untuk memecah persatuan antar dunia, dan tidak jarang juga bahkan berita bohong tersebut dapat membuat perselisihan antar negara. Sejarah ini dikutip dari Cracked.com, sejarah telah mencatat beberapa perang besar dunia yang disebabkan oleh berita hoax, baik itu disengaja ataupun yang tidak di sengaja dan juga memiliki maksud tertentu maupun hal iseng yang tidak bertanggung jawab.

SKATA

Menurut buku Museum Hoaxes hasil karya dari Alexander Bose, hoax yang pertama yang tercatat dalam sejarah adalah almanak atau penanggalan palsu, yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff atau Jonathan Swift ia adalah seorang penyiar asal Irlandia pada tahun 1709. Kala itu, Swift meramalkan kematian astrolog John Partridge, sebagai upaya untuk merebut pengaruh di tengah publik Britania Raya. Untuk meyakinkan kabar tersebut, ia pun membuat sebuah obituari palsu di hari yang sama dengan tanggal ramalannya tersebut. Akibat kabar palsu tersebut, Partridge tidak kuat menahan malu yang teramat sangat, hingga kemudian memutuskan keluar dari profesi astrologi. Bukan hanya kemalangan Partridge saja yang disebabkan oleh hoax, ada cukup banyak fakta sejarah lainnya yang dipicu oleh hal serupa, termasuk ketika membahas perang besar dunia. Berikut ini ada beberapa perang besar di dunia yang dipicu oleh hoax. Berikut diantaranya.

 

Polandia yang Dituduh Menyerang Jerman

Pada perang dunia yang ke II menjadi perang dunia yang terbesar yang terjadi di era modern. Ada begitu banyak perubahan yang terjadi di geopolitik yang disebabkan oleh perang tersebut. Termasuk juga pada gekombang kemerdekaan wilayah yang jajahan kolonial di Asia Pasifik. Namun tahukah kalian apa penyebab terjadinya perang dunia II? Sejarah umumnya menyebutkan bahwa perang dunia II meletus setelah Jerman melakukan serangan militer ke wilayah Polandia pada tanggal 1 September 1939. Yang menjadi alasan Jerman yang pada kala itu dipimpin oleh Adolf Hitler, mendapatkan invasi terlebih dahulu dari Polandia sehari sebelumnya. Namun faktanya yang sebenarnya tidak seperti itu. Salah satu seorang jendral SS yang bernama Alfred Naujocks, yang saat itu memimpin enam perwira untuk melakukan penyamaran sebagai seorang tentara pemberontak Polandia.

Sejarah Hari Ini: Jerman Menyerang Polandia | Cek&Ricek

Mereka ini menculik seorang petani Polandia yang bernama Franciszek Honiok, yang kemudian membius dan membawa petani tersebut je sebuah radio milik Jerman yang berada di kota Gliwice, sekitarnya 6,4 kilometer dari wilayah perbatasan. Di sana, mereka ini berpura-pura menyiarkan sebuah berita bahwa stasiun radio tersebut sudah dikuasai oleh Polandia. Mereka juga memperingatkan bahwa dalam waktu dekat akan menyerang negara Jerman. Inilah yang menjadi alasan bagi Jerman untuk menginvasi Polandia sehingga pada akhirnya inilah yang memicu perang aliansi secara besar-besaran yang ada di Eropa.

 

Teror Bom Penyebab Kisruh Antara Israel dengan Mesir

Menjelang akhir tahun 1950-an, Amerika serikat AS dan juga Inggris tengah dibuat terkesan dengan kepemimpinan dari Presiden Gamal Abdel Nasser di Mesir. Hal tersebut yang tidak disukai oleh Israel, yang mana mereka khawatir jika kedua negara yang paling berpengaruh tersebut akan meninggalkan Israel, untuk menghadapi tekanan Timur Tengah seorang diri. Untuk memutuskan kemesraan tersebut, Israel melakukan sebuah trik yang sangat memprovokasi sederhana namun sangat licik, yaitu dengan cara meledakan bom di beberapa target AS dan Inggris di Mesir. Setelahnya, negeri zionis itu akan mengangkat bahu dan mengkambinghitamkan pihak muslim yang ada di Mesir sebagai pelaku.

Inikah Penyebab Arab Takut Lawan Israel? | Republika Online

Taktik tersebut juga dimaksudkan untuk meyakinkan Inggris agar tetap mempertahankan pangkalan militernya berada di Terusan Suez. padahal sebelumnya, Presiden Nasser sudah berhasil membujuk Negeri Ratu Elizabeth II untuk terlibat dalam operasi keamanan gabungan di terusan paling sibuk di dunia itu.

 

Pura-pura Menjadi Tentara Rusia

Pada tahun 1788 silam, Raja Gustav III dari Kerajaan Swedia tengah dilanda kegelisahan, lantaran reputasi wibawanya yang menurun di mata publik. Ia dianggap mandul dalam menjalankan pemerintah dan tidak bisa memberikan kemajuan yang berarti. Di saat bersamaan juga, telah muncul kabar bahwa Rusia tengah berupaya memperluas kekuasaannya ke wilayah barat. Raja Gustav III melihat hal ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan kewibawaannya, yakni dengan cara berperang membela kedaulatan.

Namun, karena belum diketahui kapan Rusia akan menyerang, dan ia tidak memiliki hak dan juga alasan yang jelas untuk menyerang, maka terbesit ide yang sangat licik di pikiran Raja Gustav III untuk merekayasa sebuah peristiwa. Raja Gustav III memerintah kan tim penjahit kerajaan untuk membuat puluhan seragam pasukan Rusia. Ia kemudian memilih sebatian pasukan Kerajaan Swedia untuk mengenakannya, dan berpura-pura menyerang, sehingga dapat dijadikan alasan untuk menyerang pasukan Negeri Beruang Merah.

4 Perang Besar dalam Sejarah yang Dipicu oleh Hoax | KASKUS

Harapan Raja Gustav III adalah agar Rusia tersinggung, dan melakukan serangan balasan untuk membela harga dirinya. Dipikirnya, angkatan laut Rusia akan kewalahan melakukan invasi mendadak ke Swedia, dan ia bisa melumpuhkannya sebelum sampai di daratan Skandinavia. Satu hal yang terlupa oleh Raja Gustav III adalah, di waktu yang sama, Rusia tengah melakukan mobilisasi besar-besaran angkatan lautnya untuk berperang melawan Kekaisaran Turki Ottoman.

Akibatnya, perang antara Swedia dan Rusia menjadi sangat panjang, hingga memakan waktu hampir dua tahun lamanya. Puluhan ribu jiwa juga dikabarkan tewas dalam pertempuran yang cukup menguras kas negara di kedua pihak.

 

Penyuntingan Isi Telegram yang Memicu Perang Prusia dan Prancis

Pada abad ke-19, kerajaan Prusia wilayah yang mencakup Polandia, Jerman, dan Austria masih merupakan salah satu monarki paling berpengaruh di Eropa. Ada seorang negarawan Prusia, yang oleh beberapa sejarawan, disebut sangat terobsesi merebut kekuasaan monarki dengan diplomasi yang sangat licik yang terstruktur. Ia adalah Otto Von Bismarck, yang kelak menjadi seorang provokator dalam pecahnya perang antara Prusia dan Prancis.

Pada tahun 1870, Raja William I dari Prusia menerima kedatangan Count Vincent Benedetti, yang merupakan utusan dari Republik Prancis. Misi diplomatik tersebut bertujuan untuk mengenalkan konsep demokrasi, yang mulai diminati oleh banyak pemimpin Eropa kala itu. Sesaat setelah pertemuan tersebut, Raja William I mengirim telegram kepada Otto Von Bismarck, yang berisi hasil pembahasan dengan utusan Prancis. Tujuan telegram itu adalah agar bisa segera disiarkan ke rekan media.

Perang Prancis-Prusia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Namun, diam-diam Bismarck menyunting isi telegram tersebut, termasuk memangkas sebanyak hampir 200 kata. Isi pesan di dalamnya pun banyak berubah, yang cenderung berisi pesan bernada negatif. Baik pihak Prancis maupun Prussia, sama-sama terprovokasi oleh suntingan telegram tersebut. Prancis menganggap Prussia melecehkan utusan diplomatiknya dengan sengaja. Sebaliknya, Prussia menuduh Prancis menyebarkan kabar bohong mengenai isi telegram tersebut.

Kurang dari seminggu setelahnya, Prancis menyatakan perang terhadap Prussia, yang di kemudian hari menyebabkan jatuhnya korban tewas hingga tiga perempat jiwa.